Karya Aneu Pebrianti, Dosen Matematika Universitas Singaperbangsa Karawang
Artikel ini mengulas Ramadhan sebagai ruang pemulihan mental bagi anak muda yang hidup di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, penuh tuntutan, dan dipenuhi distraksi digital. Melalui pendekatan reflektif dan spiritual, penulis menyoroti kondisi kelelahan mental yang kerap dialami generasi muda akibat tekanan akademik, sosial, dan informasi yang datang tanpa henti. Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut dipahami sebagai kelalaian batin yang perlahan mengikis ketenangan jiwa dan kesadaran diri.
Ramadhan dipaparkan bukan semata sebagai kewajiban ibadah, melainkan sebagai ruang jeda yang secara alami menata ulang ritme hidup manusia. Melalui puasa, shalat, tilawah, dzikir, dan doa yang dijalani secara konsisten, Ramadhan menghadirkan struktur harian yang lebih teratur, melatih pengendalian diri, serta membuka ruang refleksi yang menenangkan pikiran dan hati. Artikel ini menegaskan bahwa ibadah bukan hanya sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental, menumbuhkan kesadaran diri, serta memperkuat ketahanan batin anak muda. Tulisan ini menjadi ajakan untuk memaknai Ramadhan sebagai momentum memperbaiki arah hidup, menghadirkan ketenangan batin, dan membangun keseimbangan mental yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Penulis adalah alumnus SMAN 1 Banjaran yang saat ini menjadi dosen matematika di Universitas Singaperbangsa (Unsika) Karawang






