Latar Belakang
Maskot yang digunakan oleh sebuah organisasi, tim, atau sebuah acara berfungsi sebagai simbol identitas, media untuk menyebarkan informasi visual dan cara untuk membangun hubungan emosional dengan publik. Dalam pembentukan sebuah karakter dari maskot juga harus memerlukan sebuah pertimbangan untuk membentuk visualisasi karakter yang cocok dan dapat menggambarkan citra yang baik dari perusahaan.
Visualisasi sebuah karya desain harus bersifat afektif serta memberikan sebuah persepsi yang memiliki suatu makna mendalam (Julianto et aL, 2021). Sebuah penelitian di Jepang menghasilkan analisis dari beberapa desain karakter maskot lokal, dapat dipahami bahwa makna afektif dapat diperoleh dari representasi: cheerful, simple, amiable, humorous, gentle, innocent, cute, gorgeous, dan carefree (Gn, 2016). Afeksi cenderung dapat menghasilkan sebuah alasan untuk suatu obyek visual dapat dinyatakan bermakna “cute” serta mengandung medium interaksi (Hotogi & Hagiwara 2015).
Berdasarkan hal tersebut, OSIS SMAN 1 Banjaran periode 2023-2024 yang diketuai oleh Raisya Nazifa Salwa, berkeinginan membuat brand SMAN 1 Banjaran dengan mendesain maskot. Sebelumnya, SMAN 1 Banjaran sudah mempunyai Mars Sekolah yang menjadi bagian dari identitas sekolah. Maskot ini diharapkan bisa menjadi media komunikasi sekolah dalam berbagai platform, event, dan sebagainya. Maka pada masa kepengurusan ketua OSIS Raisya dipublikasikanlah lomba desain maskot SMAN 1 Banjaran. Namun, beberapa usulan yang masuk kurang sesuai dengan visi dan misi SMAN 1 Banjaran. Maskot bukan sekedar gagah dalam hal pemilihan objek, melainkan juga harus didasarkan pada nilai filosofis kearifan lokal.
Akhirnya, OSIS dan Wakasek Kesiswaan pada saat itu merancang sendiri dengan mengambil hewan endemik khas Kabupaten Bandung, yakni ayam jalak harupat. Nama jalak harupat sudah dikenal ketika Pahlawan Otto Iskandar Di Nata di gelari si Jalak Harupat, begitu pula stadion kebanggaan warga Kab. Bandung dinamai Stadion si Jalak Harupat. Namun ternyata, masih belum banyak yang tahu bahwa jalak harupat itu adalah nama salah satu jenis ayam khas Kab. Bandung.


Makna Filosofis Maskot

KANG SABAN
Pasangan maskot ini diberi nama “Kang Saban” (Satu Banajaran) dan “Teh Jani” (Jangji Pasini/komitmen yang kuat).
Maskot “Kang Saban” dan “Teh Jani” mengambil objek dasar anak ayam Jalak Harupat yang merupakan salah satu ayam khas Jawa Barat. Jalak Harupat adalah sebutan untuk sejenis ayam jantan dalam bahasa Sunda. Ayam tersebut dimitoskan sebagai ayam yang kuat, pemberani, nyaring saat berkokok, selalu menang saat diadu. Sifatnya yang demikian membuatnya dijadikan julukan bagi seorang pemberani. Jalak harupat pun menjadi sebutan bagi pahlawan Jawa Barat, Otto Iskandar Di Nata yang terkenal keberaniannya melawan penjajah Belanda. Siswa SMAN 1 Banjaran disimbolkan sebagai anak-anak yang akan menjadi “ayam si jalak harupat” yang memiliki keberanian, keteguhan, dan kemampuan berkompetisi dalam berbagai ajang untuk menjadikan dirinya generasi yang kuat, cerdas, kreatif, inovatif, dan berakhlak mulia. Makna filosofis tersebut juga sejalan dengan visi SMAN 1 Banajaran saat ini, yakni Quality, Dignity, Posterity.
Karakter kuat, kokoh, pemberani, dan siap berkompetisi dengan dilandasi akhlak mulia harus melekat pada peserta didik SMAN 1 Banjaran. Peserta didik SMAN 1 Banjaran juga harus memiliki karakter yang sejalan dengan gapura pancawaluya: cageur, bageur, bener, pinter, tur singer. Sebab, pendidikan bukan semata menggamit ilmu pengetahuan, melainkan juga harus menanamkan nilai-nilai sebagai wujud pendidikan karakter dan akhlak mulia.

TEH JANI
“Kang Saban” dan “Teh Jani” sebagai generasi “si Jalak Harupat” memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas dengan ditandai bulatan mata yang besar dan penuh dengan optimisme menatap ke depan. Meskipun demikian, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak meninggalkan nilai-nilai adiluhung daerah Jawa Barat yang ditandai dengan mengenakan baju pangsi, iket sunda motif mega mendung, dan pin kujang (kukuh kana jangji) sebagai bentuk kesederhanaan, pribadi yang bersahaja dan berwibawa. Kepribadian seperti ini harus sudah dibangun sejak “si Jalak Harupart” masih usia muda agar ketika dewasa nanti menjadi sosok “Si Jalak Harupat” yang selalu mengharumkan nama baik sekolah, keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa di kancah kompetisi nasional dan global.
Konsep dan deasin oleh: Ismail Kusmayadi dan Raisya Nazifa Salwa





