“Jagung Manis” oleh Bapak Ismail Kusmayadi

Opini singkat mengenai pendidikan yang dianalogikan sebagai “Jagung Manis” oleh Bapak Ismail Kusmayadi—Artikel ini mengajak pembaca merenungkan makna potensi dan proses dalam kehidupan manusia, khususnya dalam dunia pendidikan. Jagung manis digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan bahwa potensi tidak akan selalu terasa “manis” apabila tidak dirawat, diolah, dan dimanfaatkan pada waktu yang tepat.

Penulis menyoroti bagaimana potensi manusia, layaknya jagung manis, dapat berkurang nilainya jika disimpan terlalu lama atau diperlakukan secara keliru. Dalam konteks pendidikan, hal ini tercermin pada peserta didik yang awalnya memiliki semangat, rasa ingin tahu, dan kecakapan sosial, namun perlahan memudar akibat proses pendidikan yang kaku, menunda, dan hanya berorientasi pada hasil akhir semata.

Melalui perspektif humanis dan pemikiran tokoh-tokoh pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara, Vygotsky, dan Paulo Freire, artikel ini menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia. Pendidikan yang bermakna hadir ketika pendidik peka terhadap waktu, konteks, dan kebutuhan peserta didik, sehingga potensi dapat berkembang secara optimal.

Pada akhirnya, Jagung Manis mengingatkan bahwa kualitas pendidikan dan kehidupan ditentukan oleh kepekaan, ketepatan waktu, serta kesadaran dalam merawat potensi. Sebab, seperti rasa manis jagung yang paling nikmat saat diolah pada waktunya, pendidikan pun mencapai maknanya ketika mampu membentuk manusia yang utuh dan berkepekaan sosial

Klik di sini untuk selengkapnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

SPMB Tahap 2 Sudah Di Buka
PENGUMUMAN SPMB 2025 TAHAP 1

Prestasi

BAPOPSI OPEN 1 JAWA BA...
BAPOPSI OPEN 1 JAWA BA...